Ada yang iseng menafsirkan bahwa bayi menangis ketika lahir karena menyesal mengetahui bapakanya, kok itu. Ada perjanjian pribadi dengan Tuhan dalam hal rancangan hidup di dunia. Tetapi, tidak ada klausul bahwa sebelum menjadi bayi, manusia berhak memilih lahir dari bapak dan ibu yang mana.

Apalagi, memilih dilahirkan berkebangsaan apa dan ditaruh oleh Tuhan di negara mana. Sebelum menjadi bayi, manusia memiliki pengetahuan yang prima tentang muatan ruang dan waktu. Tetapi, ada pasal bahwa begitu dia lahir, Tuhan membuatnya lupa pada seluruh pengetahuan itu. Alhasil, tugas utama manusia lahir di dunia adalah meneliti.

Puncak penelitian setiap orang dirumuskan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu”. Barangsiapa menemukan dan mengerti dirinya, maka dia menemukan dan mengerti Tuhan Pengasuhnya. Tentu saja itu dialektis dengan sebaliknya, “man ‘arafa Robbahu faqad ‘arafa nafsahu”.

Aku hidup bukan untuk memenuhi keinginanku. Bukan untuk melampiaskan nafsuku. Bukan untuk menggapai ambisi dan cita-citaku. Bukan untuk menempuh karier pribadiku. Bukan untuk memanjat kursi kekuasaan atas manusia lain. Bukan untuk mendaki puncak gunung sukses dan kekayaan. Aku hidup untuk memastikan penyatuan kembali diriku dengan Diri Sejati, mata air ada-ku.

Jangan hadapi dinamika getaran ini dengan pertanyaan linier dan statis-materialistis: Duluan mana, menemukan Tuhan atau diri? Waktu adalah gelembung-gelembung. Ruang bukan kekosongan yang terlihat dari titik pijak benda yang mandek. Penglihatan indra mata terhadap benda hanyalah di lingkup ilmu Katon. Dan barang katon adalah realitas paling luar dan paling menipu dari indahnya ketakterbatasan roh.

Untung Tuhan selalu sangat dermawan, santun, care, dan penuh kasih sayang. Itulah sebabnya, pada tahap awal saja Dia lahir sebagai “Ilah”, Maha Sesembahan, misalnya ketika manusia bersyahadat. Sesudah itu, Dia menyertai manusia sebagai “Rabb”, Maha Pengasuh, Maha Penyantun, Maha Mengayomi. Kemudian, default kehadiran-Nya adalah Rahman dan Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bahkan, ‘allamal insana ma lam ya’ lam. Dia rajin, tekun, dan Mahasabar mengajari manusia apa yang belum ia ketahui. Sel-selku dipacu untuk berkembang biak. Setiap partikel jasadku didorong untuk memuai dan berevolusi. Dari janin, aku dikawal dan dididik untuk menjadi jasad. Selama berenang-renang dalam perut ibuku, Dia memandu bagaimana memelihara kehidupan melalui tali pusarku.

Bahkan, Dia kemudian memberi instruksi tatkala tiba momentum saat aku harus keluar dari rahim Ibu. Aku bekerja keras, dibantu oleh ibuku yang mengejan dengan rasa sakit yang luar biasa. Penderitaan selama melahirkanku itu yang membuat Ibu kusetori cinta tiga kali sebelum Bapak. Akhirnya, aku lahir ke dunia yang terasa sangat asing dan wajahnya berupa tanda tanya raksasa sehingga aku menangis. Lantas, Bapak melantunkan azan yang dibalik kalimat-kalimatnya seolah Bapak berkata kepadaku, “Jangan khawatir Nak, Ibu dan Bapak menemanimu untuk berjuang menggapai kemenangan.” Hayya ‘alal falah.

Bisa jadi itu tangis penyesalan dan penderitaan. Pada sebagian manusia lain, mungkin itu tangis kelegaan dan kegembiraan. Mungkin penyesalan kenapa dia tak dijadikan sehelai bunga saja. Mekar beberapa saat untuk memastikan dan mengantarkan datangnya bebuahan. Atau kegembiraan bodoh yang mensyukuri bahwa dia tak ditakdirkan menjadi anjing, melainkan jadi manusia.

Manusia memanggul tanggung jawab, sedangkan anjing merdeka. Manusia bergelimang dosa, anjing tak berurusan dengan dosa atau pahala. Di tengah proses penelitianku tentang “tangis apa yang bersuara dari tenggorokan dan mulutku ketika lahir”, kudengar setiap saat Ibu, Bapak, dan keluargaku menyembunyikan suara-suara yang kelak kuketahui bahwa itu adalah kata dan bahasa. Konkretnya: kata Jawa dan bahasa Jawa Timuran.

Sebenarnya tatkala Bapak berazan, aku tak mengerti bunyi apa itu. Sebab, memang perjanjiannya, sesudah transformasi Sulbi, Allah memendam seluruh pengetahuan dan wacanaku di bawah “tanah” atau di lubuk “sukma”, serta menabirinya dengan hijab rahasia. Itulah sebabnya begitu lahir, profesi autentikku adalah meneliti kembali. Sejumlah kata Jawa tertanam ke dalam memori dan menjadi pemahamanku sedikit demi sedikit. Bahasa Jawa Timur adalah bahasa ibuku.

Di tengah tahap itu, aku mendengar kata dan kalimat rutin dari bahasa lain yang asing bagi tradisi bahasa ibuku, “bismillahirrohmanirrohim” dan banyak lagi. Secara naluriah aku menjadi hafal, “Bismillahi”, kemudian “roh”, lantas “mani”, dan “rohim”, atau sering diucapkan menjadi “rahim”. Samar-samar aku menangkap semacam alur: asma Allah, roh, manj, rahim…. Pemahaman awal yang kuperoleh adalah semacam pengetahuan bahwa kehidupan adalah prakarsa Allah yang kukenal dari asma-Nya, meniupkan roh-Nya, setetes air mani bergerak-gerak, mencari jodohnya pada dinding yang kokoh di rahim Ibu.

Secara bertahap, kelak kupahami seluruh kelengkapan eksistensi Allah yang tiada batasnya sehingga dipermudah untukku menjadi hanya 99. Mulai kuhayati di antara seluruh fungsi-Nya, berbagai kehadiran-Nya, serta ragam-ragam peran-Nya.

Dia pilihkan yang utama, default, dan primer adalah Rahman dan Rahim. Bukan hanya cinta yang luas, melainkan juga senantiasa meluas.

Bukan hanya kasih sayang yang sangat dalam, melainkan selalu makin dalam.

Tahap demi tahap, kemudian keindahan itu kutelusuri, kuteliti, dan kunikmati hingga hari ini. Ah, dari yang paling hulu hingga yang terhilir, tema kehidupan ini dirancang, diciptakan, dan dijanjikan semata-mata untuk percintaan dan kemesraan. Sesekali kudengarkan hiruk piruk dunia dan manusia mempertengkarkan entah apa saja. Terkadang aku menangisi mereka, pada saat lain aku tertawa, terpingkal-pingkal sampai bercucuran air mata.

Diambil dari tulisan yang berjudul Rohmanirohim – Hulu Hilir Cinta karya Emha Ainun Najib dalam bukunya Kiai Hologram.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *